Waktu bukan ukuran
Hebat belum tentu kuat
Berbasis ketekunan
Belajar menerima
Bukan untuk merasa tersaingi
Jadikan semangat untuk memperbaiki
Jangan pernah merasa terlambat dan akhirnya takut untuk memulai
Bukan waktunya menyalahkan diri sndri
Bergegas dan segera berdiri
Ada cahaya yg mulai redup
Ada bayang yg mulai menghilang
Elang terbang kembali kesarang
Gembala menggiring ternaknya kekandang
SURYA pejamkan sinarnya
Lembayung jingga warnai cakrawala
Senja telah menyapa
Tak ada yg abadi
Pelan,perlahan,tak terlihat lagi
Hitam,kelam,gulita dalam pekat
Bukan untuk kita terhenti
Koreksi dan atur strategi
Cita esok yang lebih baik lg
---SURYA MURTI---
Jumat, 01 Oktober 2010
Rabu, 29 September 2010
" IKHLAS "
Bukan barang mahal hanya sepatah kata sederhana
Bukan konotasi yg sukar diartikan
Hanya membutuhkan hati untuk menjalankan
Mudah dilafalkan gampang dituliskan
Namun dibutuhkan kebesaran jiwa untuk merealisasikan
Bukan tak punya hati hanya mempertahankan
Bukan tak tau malu hanya memperjuangkan
Dengan resiko yg terpampang
Gemuruh badai menggoyahkan dan entah apalagi yg menghadang
Bukan tak takut mati hanya ikuti katahati
Bukan tak takut tersakiti hanya ungkapan rasa
Berpegang pada
IKHLAS MENCINTAI,
IKHLAS TANPA ANGAN,
IKHLAS TAK BERHARAP,
IKHLAS TAK BERBALAS.....
---SURYA MURTI---
Bukan konotasi yg sukar diartikan
Hanya membutuhkan hati untuk menjalankan
Mudah dilafalkan gampang dituliskan
Namun dibutuhkan kebesaran jiwa untuk merealisasikan
Bukan tak punya hati hanya mempertahankan
Bukan tak tau malu hanya memperjuangkan
Dengan resiko yg terpampang
Gemuruh badai menggoyahkan dan entah apalagi yg menghadang
Bukan tak takut mati hanya ikuti katahati
Bukan tak takut tersakiti hanya ungkapan rasa
Berpegang pada
IKHLAS MENCINTAI,
IKHLAS TANPA ANGAN,
IKHLAS TAK BERHARAP,
IKHLAS TAK BERBALAS.....
---SURYA MURTI---
Selasa, 28 September 2010
" LOVE STORM "
Seperti berjalan dalam lumpur
melangkah tanpa arah
Tenggelam,,,
Salahku berlabuh???
Bukan tempatku,,
Kapalku tak bisa berbelok lg,,
Salahkan angin
Salahkan arus?
Seperti tak ada lagi mentari
bahkan tak terasa perbedaan pagi,
Semua gelap
Semua pekat
Terlihat tarian ilalang
Lambaian selamat tinggal
Dan debur ombak hanyutkan semua kisah
Tertutup awan dalam senja petang,,,,
---SURYA MURTI---
melangkah tanpa arah
Tenggelam,,,
Salahku berlabuh???
Bukan tempatku,,
Kapalku tak bisa berbelok lg,,
Salahkan angin
Salahkan arus?
Seperti tak ada lagi mentari
bahkan tak terasa perbedaan pagi,
Semua gelap
Semua pekat
Terlihat tarian ilalang
Lambaian selamat tinggal
Dan debur ombak hanyutkan semua kisah
Tertutup awan dalam senja petang,,,,
---SURYA MURTI---
Senin, 27 September 2010
" UNTITLED "
Terbuai salawat cinta
Terpenjara dalam istana dusta
kepalsuan yang terbaca
Berpura buta
Bersembunyi d balik tirai kebohongan
kesadaran yg diabaikan
Logika yg sengaja dihentikan
Demi kepuasan rasa
Fakta tak berguna
Pendosa & pengkhianat cinta
Peran utama dalam sandiwara
Bertajuk kasih sayang
Berperangkap nikmat
Berjaring kerinduan
Keagungan rasa halal kan semua
Keiklasan yg luar biasa,,,
---SURYA MURTI---
Terpenjara dalam istana dusta
kepalsuan yang terbaca
Berpura buta
Bersembunyi d balik tirai kebohongan
kesadaran yg diabaikan
Logika yg sengaja dihentikan
Demi kepuasan rasa
Fakta tak berguna
Pendosa & pengkhianat cinta
Peran utama dalam sandiwara
Bertajuk kasih sayang
Berperangkap nikmat
Berjaring kerinduan
Keagungan rasa halal kan semua
Keiklasan yg luar biasa,,,
---SURYA MURTI---
" BULLSIT "
Bagian dari perjalanan
Warna perjuangan
Hidup bukan mudah tak jua susah
Putaran yg tak terhenti
Dalam lingkaran keangkuhan
Tiada ketulusan
Cinta yg diselimuti keegoisan
Perjuangan bukan untuk di hentikan
Dan aral itu tidak untuk di singkirkan
Sikap hidup yang mantap
Putusan dalam kebimbangan
Antara CINTA & MATERI
Antara Kasih Sayang & Omong kosong
Ada dalam satu garis lurus
Tiada lg DJATI diri
Takan ada kata HATI
Gaungan NOMINAL & FINANSIAL
Berdalih CINTA,,
Tafsiran BODOH !!!!
Merealisasikan fiksi
Nyata di atas mimpi
Kejahatan bertopeng cinta
Teroris berjubah kyai,,,
---SURYA MURTI---
Warna perjuangan
Hidup bukan mudah tak jua susah
Putaran yg tak terhenti
Dalam lingkaran keangkuhan
Tiada ketulusan
Cinta yg diselimuti keegoisan
Perjuangan bukan untuk di hentikan
Dan aral itu tidak untuk di singkirkan
Sikap hidup yang mantap
Putusan dalam kebimbangan
Antara CINTA & MATERI
Antara Kasih Sayang & Omong kosong
Ada dalam satu garis lurus
Tiada lg DJATI diri
Takan ada kata HATI
Gaungan NOMINAL & FINANSIAL
Berdalih CINTA,,
Tafsiran BODOH !!!!
Merealisasikan fiksi
Nyata di atas mimpi
Kejahatan bertopeng cinta
Teroris berjubah kyai,,,
---SURYA MURTI---
" MUNAFIK "
Saat kau didekatku,,
Ingin kumengusirmu dan membersihkan tempat dudukmu.
Saat ku tahu kau menyukaiku,,,
Inginku menelanmu dan memusnahkanmu
Saat kau beranikan tuk ucapkan kata cinta
Ingin kututup rapat telingaku dan membungkam mulutmu
Da tahan,,,,
Saat kau pergi dan menjauh dariku
Inginku bertemu dan mencarimu
Iaat kulihat kau jalan berdua
Ingin kuikat kaki perempuan itu dan menggandengmu
Saat kau melepas tanganku dan memilih tuk bersamanya
Inginku memebunuhmu atau menguburmu hidup hidup,,,,
Huffff,,,,,,,huffff,,,,huffff.............kesel(ngos2an)
---SURYA MURTI---
Ingin kumengusirmu dan membersihkan tempat dudukmu.
Saat ku tahu kau menyukaiku,,,
Inginku menelanmu dan memusnahkanmu
Saat kau beranikan tuk ucapkan kata cinta
Ingin kututup rapat telingaku dan membungkam mulutmu
Da tahan,,,,
Saat kau pergi dan menjauh dariku
Inginku bertemu dan mencarimu
Iaat kulihat kau jalan berdua
Ingin kuikat kaki perempuan itu dan menggandengmu
Saat kau melepas tanganku dan memilih tuk bersamanya
Inginku memebunuhmu atau menguburmu hidup hidup,,,,
Huffff,,,,,,,huffff,,,,huffff.............kesel(ngos2an)
---SURYA MURTI---
" TUHAN jawab tanyaku "
TUHAN ....
Inikah jalan hidupku ....
Kurasa begitu berat ....
mengapa ?????????
Jiwa ini entah kemana
Khayalku melayang jauh kedepan ..
Sedang raga tetap diam tak bergemang
Rasa sesal terus datang,, diam,, dan tak mau pergi ..
Haruskah aku lari dari kenyataan ini ...
Aku tak tau apa yang kuinginkan
Aku tak mengerti ...
Sungguh ...
Tolong aku TUHAN ..
Jawablah tanyaku
Mungkin lewat mimpiku ..
atau dengan bahasa kalbuMU
TUHAN ...
Sadarkan aku,, dari tidurku
Ku tak ingin tetap diam
Sementara yang lain telah jauh menghilang ...
Aku butuhkan jawaban ..
Sebelum datang lagi pertanyaan
Sedih,, merintih,, bingung,, tak mengerti,,
Jurang itu,,, terlalu dalam
Dengan apa kuharus Mendaki
Dengan sisa nafasku tersendat ,,,,,
Dengan langkahku yang tertatih ...
Teruskan perjuangan
Raih tuk kemerdekaan
Secercah cahaya terang
Menuju kebahagiaan ...
---SURYA MURTI---
Inikah jalan hidupku ....
Kurasa begitu berat ....
mengapa ?????????
Jiwa ini entah kemana
Khayalku melayang jauh kedepan ..
Sedang raga tetap diam tak bergemang
Rasa sesal terus datang,, diam,, dan tak mau pergi ..
Haruskah aku lari dari kenyataan ini ...
Aku tak tau apa yang kuinginkan
Aku tak mengerti ...
Sungguh ...
Tolong aku TUHAN ..
Jawablah tanyaku
Mungkin lewat mimpiku ..
atau dengan bahasa kalbuMU
TUHAN ...
Sadarkan aku,, dari tidurku
Ku tak ingin tetap diam
Sementara yang lain telah jauh menghilang ...
Aku butuhkan jawaban ..
Sebelum datang lagi pertanyaan
Sedih,, merintih,, bingung,, tak mengerti,,
Jurang itu,,, terlalu dalam
Dengan apa kuharus Mendaki
Dengan sisa nafasku tersendat ,,,,,
Dengan langkahku yang tertatih ...
Teruskan perjuangan
Raih tuk kemerdekaan
Secercah cahaya terang
Menuju kebahagiaan ...
---SURYA MURTI---
Minggu, 09 Mei 2010
If you are a busy English language teacher or trainer looking for support and development materials for your classroom???
If you are a busy English language teacher or trainer looking for support and development materials for your classroom, we can help you with this weekly collection of links to free materials from our British Council websites for teachers.
We are having a break for IATEFL 2010
Join us at http://iatefl.britishcouncil.org/2010/
Next update: 16 April 2010
LATEST UPDATES
Counselling learners
There are various ways of measuring learners' progress. Whichever method you choose, you should take time out to counsel your learners. Counselling involves talking through their strengths and weaknesses. It is an interactive process in which they are able to say how they feel about their learning, the course, and their teacher.
Read more
How green are you?
This lesson looks at ways the learners can take to reduce their impact on climate change. Learners will carry out two surveys and summarise their findings as a report. It gives students the chance to interview others to complete a survey and summarise findings in a report and develop questionnaires on current behaviour using present perfect forms.
Read more
Premier Skills
Your students can win a trip to the UK to watch a Barclays Premier League game in a new global competition from the British Council on premier-skills. Premierskills is a joint project between British Council and the UK’s Premier League which enables learners and teachers to communicate in two of the world’s global languages – football and English.
Read more
Constructivism in Saint Petersburg
This week I have participated in the Philological Conference in Saint Petersburg. It is an indispensable part of a university lecturer life to keep up with innovations or contribute to the progress in your field speaking to colleagues or writing articles. About a thousand speakers took part in it and the Lingvodidactic section welcomed about 30 researchers mostly from Russia and Ukraine.
Read more
Lesson Suggestions Please
I am giving one-one-one private English conversation lessons to two teenagers (separately) and I'm not sure what to do. They are elementary students and can express themselves but their pronunciation and vocabulary are not very good, although I can understand what they are trying to say. Should I be correcting this?
Read more
Gobbledygook
Put students in pairs and give them a scene to act out. They are going to have a conversation using an invented language. Explain to your students that gobbledygook is a made up language that is total nonsense. The pair should act out the scene using the correct intonation as if they were really talking to one another.
Read more
Zero Materials
Do you find yourself spending hours preparing your lessons? Are you getting very little support from colleagues? Is it difficult to know what to teach your children without a syllabus? Would you like some tips on how to create a good lesson when you find yourself with ten minutes to prepare a lesson, a broken photocopier, and your bag of teaching goodies safely locked up at home?
Read more
PREVIOUS UPDATES
Using the Board
Do you have a blackboard, a whiteboard or an IWB? Whatever type of board you have in your classroom it is important to be organised and to put yourself in your students' shoes for a moment. What do they see when they look at your board? In this article we will consider ways of getting the best use out of your board and perhaps give suggestions for exploiting your board in a different way.
Read more
Save water
This lesson looks at the causes of water shortages locally and internationally, and learners will produce a poster giving advice on saving water in the home or in the school. The lesson gives students the opportunity to talk about the use of water in every day life and to give advice to others on their role in water conservation.
Read more
ELTons 2010 Winners
The winners of the ELTons 2010 have now been announced! The ceremony, sponsored by Cambridge ESOL, took place on 3 March in London, marking the seventh year of the prestigious awards. Find out who won.
Read more
Teacher problems
This week’s poll is about the challenging job of teaching and the many problems we face as teachers. Which of these do you think is the biggest problem? What are your views on this topic? If you have any comments you would like to make on this topic, visit the post them below.
Read more
Teaching English in large, multi-level and multi-lingual classroom
I teach in mid-eastern hill of Nepal. One of my classes has 90 students. I found 9 native languages of their own in this class. Similarly, many students have come from different lower secondary schools with different abilities. It is very difficult to teach English in this large class with mixed abilities. Their own native languages has also created problem in correct pronunciation as well. I would like some practical ideas or techniques to teach in this type of classroom.
Read more
Computer Games Can Teach Schools Some Lessons
Some parents might see video games as an impediment to children keeping up with their schoolwork. James Gee, however, thinks video games are some of the best learning environments around. He says that if schools adopted some of the strategies that games use, they could educate children more effectively.
Read more
Getting adults and children to talk
Both adults and children need practice at talking to be able to develop their speaking skills, but that things that stimulate them to talk are often quite different. This tip contrasts the different approaches to getting adults and children talking.
Read more
Mobile phones
This lesson is about mobile phones and the issues that surround them. Students have the chance to learn some vocabulary related to phones and to do a quiz to test their knowledge of mobiles. Task 3 looks at text messaging and the language used for sending text messages. Students are given the chance to teach you about some of the text short-hand in their own language too.
Read more
We are having a break for IATEFL 2010
Join us at http://iatefl.britishcouncil.org/2010/
Next update: 16 April 2010
LATEST UPDATES
Counselling learners
There are various ways of measuring learners' progress. Whichever method you choose, you should take time out to counsel your learners. Counselling involves talking through their strengths and weaknesses. It is an interactive process in which they are able to say how they feel about their learning, the course, and their teacher.
Read more
How green are you?
This lesson looks at ways the learners can take to reduce their impact on climate change. Learners will carry out two surveys and summarise their findings as a report. It gives students the chance to interview others to complete a survey and summarise findings in a report and develop questionnaires on current behaviour using present perfect forms.
Read more
Premier Skills
Your students can win a trip to the UK to watch a Barclays Premier League game in a new global competition from the British Council on premier-skills. Premierskills is a joint project between British Council and the UK’s Premier League which enables learners and teachers to communicate in two of the world’s global languages – football and English.
Read more
Constructivism in Saint Petersburg
This week I have participated in the Philological Conference in Saint Petersburg. It is an indispensable part of a university lecturer life to keep up with innovations or contribute to the progress in your field speaking to colleagues or writing articles. About a thousand speakers took part in it and the Lingvodidactic section welcomed about 30 researchers mostly from Russia and Ukraine.
Read more
Lesson Suggestions Please
I am giving one-one-one private English conversation lessons to two teenagers (separately) and I'm not sure what to do. They are elementary students and can express themselves but their pronunciation and vocabulary are not very good, although I can understand what they are trying to say. Should I be correcting this?
Read more
Gobbledygook
Put students in pairs and give them a scene to act out. They are going to have a conversation using an invented language. Explain to your students that gobbledygook is a made up language that is total nonsense. The pair should act out the scene using the correct intonation as if they were really talking to one another.
Read more
Zero Materials
Do you find yourself spending hours preparing your lessons? Are you getting very little support from colleagues? Is it difficult to know what to teach your children without a syllabus? Would you like some tips on how to create a good lesson when you find yourself with ten minutes to prepare a lesson, a broken photocopier, and your bag of teaching goodies safely locked up at home?
Read more
PREVIOUS UPDATES
Using the Board
Do you have a blackboard, a whiteboard or an IWB? Whatever type of board you have in your classroom it is important to be organised and to put yourself in your students' shoes for a moment. What do they see when they look at your board? In this article we will consider ways of getting the best use out of your board and perhaps give suggestions for exploiting your board in a different way.
Read more
Save water
This lesson looks at the causes of water shortages locally and internationally, and learners will produce a poster giving advice on saving water in the home or in the school. The lesson gives students the opportunity to talk about the use of water in every day life and to give advice to others on their role in water conservation.
Read more
ELTons 2010 Winners
The winners of the ELTons 2010 have now been announced! The ceremony, sponsored by Cambridge ESOL, took place on 3 March in London, marking the seventh year of the prestigious awards. Find out who won.
Read more
Teacher problems
This week’s poll is about the challenging job of teaching and the many problems we face as teachers. Which of these do you think is the biggest problem? What are your views on this topic? If you have any comments you would like to make on this topic, visit the post them below.
Read more
Teaching English in large, multi-level and multi-lingual classroom
I teach in mid-eastern hill of Nepal. One of my classes has 90 students. I found 9 native languages of their own in this class. Similarly, many students have come from different lower secondary schools with different abilities. It is very difficult to teach English in this large class with mixed abilities. Their own native languages has also created problem in correct pronunciation as well. I would like some practical ideas or techniques to teach in this type of classroom.
Read more
Computer Games Can Teach Schools Some Lessons
Some parents might see video games as an impediment to children keeping up with their schoolwork. James Gee, however, thinks video games are some of the best learning environments around. He says that if schools adopted some of the strategies that games use, they could educate children more effectively.
Read more
Getting adults and children to talk
Both adults and children need practice at talking to be able to develop their speaking skills, but that things that stimulate them to talk are often quite different. This tip contrasts the different approaches to getting adults and children talking.
Read more
Mobile phones
This lesson is about mobile phones and the issues that surround them. Students have the chance to learn some vocabulary related to phones and to do a quiz to test their knowledge of mobiles. Task 3 looks at text messaging and the language used for sending text messages. Students are given the chance to teach you about some of the text short-hand in their own language too.
Read more
If you are an English language teacher???
If you are an English language teacher and you want to develop your understanding of teaching methodology and practice, we can help you with a new article every week.
We are having a break for IATEFL 2010
Join us at http://iatefl.britishcouncil.org/2010/
Next update: 16 April 2010
Working with minimal resources - teacher training in Mongolia
Karen Waterstone
Teaching with minimal resources can seem a daunting prospect for those of us lucky enough to work with coursebooks, photocopiers, audio and IT facilities in our schools. Karen Waterston recently returned from Mongolia, where she ran an in-service teacher training course. Here she writes about how she adapted to her new working environment.
A new start
I resigned from my job with the British Council in February 2008 to start an in-service teacher training course in a small town in the North East of Mongolia. For 3 months, I saw more sand storms than I have ever seen in my life. I moved house twice, saw horses parked outside the bank, and was joyous to see green leaves in summer.
I worked with the most incredible teachers who had relatively little in terms of resources, and so during that time I had to become good at teaching and training with next to nothing. The teachers I worked with have no teachers' books, no cassettes or CDs, and would have nothing to play them on even if they did. The students share a course book between 4 or 5, sometimes more. Photocopiers are scarce and often locked in a room – the key nowhere to be found. Computers are slow and the sand storms meant that the connections disappeared on a daily basis. So, here I was, with an empty training room, eager teachers, a chalk board, no resources, and me.
What I did
I managed to find some small notebooks and gave one each to the teachers to use as journals. Every week the teachers wrote to me about their classes and what they found hard, needed help with and also what had worked and what the students liked. I used this to feed into my training sessions.
I became an actress. To demonstrate different types of teaching techniques I became two or three different teachers. We couldn’t read case studies and analyse them because there was no printer and paper was like gold dust. I acted the scenarios, as a teacher-centred teacher and as a learner-centred teacher. It wasn’t easy but with a smile and some energy, the teachers saw what I was trying to illustrate.
We did a lot of TPR activities using words and actions of everyday life - relevant to the local situation - such as chopping wood, collecting water, cooking, herding animals.
I cut down on my use of paper. I became an expert at only using the paper I needed so I put 2 or 3 activities on one page and photocopied it for teachers to share. I then cut away the margins and kept these to use for games such as pictionary. One thing I noticed was that memory becomes better when you don’t have everything on hundreds of pieces of paper.
For bingo activities, the teachers drew grids in their books and we used to come back to this to practise areas such as giving instructions and the use of imperatives.
I exploited language and stories from the teachers’ own lives rather than made up dialogues and situations in books. I asked them to bring stories from their classroom situations and we used these as material for discussion.
At the end of each session, I asked teachers to summarise what we had done, and we put bullet points on the board which they copied into their notebooks.
I went to schools and observed the teachers and in exchange I taught their classes. This became useful material to use as illustrations of the differences and similarities between our teaching styles. I encouraged student participation and for students to provide words, sentences and situations for dialogues and games. It’s amazing how much we all have in our heads that can be tapped into. And it’s real.
Teachers had access to computers, but as internet was limited, sharing resources was difficult and I couldn’t find a solution to having shared online space. So I saved everything on my work computer and transferred materials, sessions, websites and resources (along with photos I’d taken) onto the teachers USB keys, which most of them had.
Conclusion
All in all, it was a very rewarding time. I had to be creative and realise that we don’t always need a huge amount of resources to be a good teacher. Energy, creativity and a sense of humour go a long way. Oh, and being flexible really helps too.
We are having a break for IATEFL 2010
Join us at http://iatefl.britishcouncil.org/2010/
Next update: 16 April 2010
Working with minimal resources - teacher training in Mongolia
Karen Waterstone
Teaching with minimal resources can seem a daunting prospect for those of us lucky enough to work with coursebooks, photocopiers, audio and IT facilities in our schools. Karen Waterston recently returned from Mongolia, where she ran an in-service teacher training course. Here she writes about how she adapted to her new working environment.
A new start
I resigned from my job with the British Council in February 2008 to start an in-service teacher training course in a small town in the North East of Mongolia. For 3 months, I saw more sand storms than I have ever seen in my life. I moved house twice, saw horses parked outside the bank, and was joyous to see green leaves in summer.
I worked with the most incredible teachers who had relatively little in terms of resources, and so during that time I had to become good at teaching and training with next to nothing. The teachers I worked with have no teachers' books, no cassettes or CDs, and would have nothing to play them on even if they did. The students share a course book between 4 or 5, sometimes more. Photocopiers are scarce and often locked in a room – the key nowhere to be found. Computers are slow and the sand storms meant that the connections disappeared on a daily basis. So, here I was, with an empty training room, eager teachers, a chalk board, no resources, and me.
What I did
I managed to find some small notebooks and gave one each to the teachers to use as journals. Every week the teachers wrote to me about their classes and what they found hard, needed help with and also what had worked and what the students liked. I used this to feed into my training sessions.
I became an actress. To demonstrate different types of teaching techniques I became two or three different teachers. We couldn’t read case studies and analyse them because there was no printer and paper was like gold dust. I acted the scenarios, as a teacher-centred teacher and as a learner-centred teacher. It wasn’t easy but with a smile and some energy, the teachers saw what I was trying to illustrate.
We did a lot of TPR activities using words and actions of everyday life - relevant to the local situation - such as chopping wood, collecting water, cooking, herding animals.
I cut down on my use of paper. I became an expert at only using the paper I needed so I put 2 or 3 activities on one page and photocopied it for teachers to share. I then cut away the margins and kept these to use for games such as pictionary. One thing I noticed was that memory becomes better when you don’t have everything on hundreds of pieces of paper.
For bingo activities, the teachers drew grids in their books and we used to come back to this to practise areas such as giving instructions and the use of imperatives.
I exploited language and stories from the teachers’ own lives rather than made up dialogues and situations in books. I asked them to bring stories from their classroom situations and we used these as material for discussion.
At the end of each session, I asked teachers to summarise what we had done, and we put bullet points on the board which they copied into their notebooks.
I went to schools and observed the teachers and in exchange I taught their classes. This became useful material to use as illustrations of the differences and similarities between our teaching styles. I encouraged student participation and for students to provide words, sentences and situations for dialogues and games. It’s amazing how much we all have in our heads that can be tapped into. And it’s real.
Teachers had access to computers, but as internet was limited, sharing resources was difficult and I couldn’t find a solution to having shared online space. So I saved everything on my work computer and transferred materials, sessions, websites and resources (along with photos I’d taken) onto the teachers USB keys, which most of them had.
Conclusion
All in all, it was a very rewarding time. I had to be creative and realise that we don’t always need a huge amount of resources to be a good teacher. Energy, creativity and a sense of humour go a long way. Oh, and being flexible really helps too.
Selasa, 06 April 2010
Senin, 08 Maret 2010
* News * Education * University guide Oxford tops Guardian's 2010 university league table
Students at Oxford University
Students at Oxford University. Photograph: Graham Turner
Oxford University holds on to its position as the UK's leading teaching institution in the Guardian's university league tables, to be published tomorrow.
The tables provide vital information for students who face the toughest ever competition for university places this year.
Oxford scores highly on teaching quality, student satisfaction and career prospects.
It also spends the highest amount per student. Dr John Hood, Oxford's vice-chancellor, warned last month that the university was suffering unsustainable losses because of the cost of teaching its undergraduates.
Oxford's traditional rival, Cambridge University, retains its second-place ranking, with St Andrews University moving up from fifth spot last year to third place in the 2010 tables.
Britain's oldest universities still dominate the high rankings this year, with the London School of Economics fifth, Edinburgh seventh, and Imperial College London eighth.
But universities founded in the 1960s have also made the top 10: Warwick retains fourth position and Loughborough the tenth spot; Bath ranks ninth, up from 13th last year. Sussex has leapt 15 places to 18th, and Herriot-Watt rises from 52nd to 22nd place this year.
Prof Paul Curran, vice-chancellor of Bournemouth University, which has come top of the post-1992 universities for the second year running, said its 32nd ranking was down to investing in staff.
"We focused very clearly on academic excellence and investing in academic staff and our performance has improved dramatically.
"We've recruited 150 new staff over two years and doubled the number of staff who have doctorates, which has improved the student experience.
"Academic staff who are really enthusiastic about their subject is what we think students want, and the results would indicate that."
Newer universities tend to do less well in the Guardian's tables because they spend less money on teaching, they have lower ratios of staff to students, and their students are less happy with the feedback they get.
Paul Marshall, executive director of the 1994 group of smaller, research-intensive institutions, said: "The excellent performance of 1994 group universities in these national league tables, achieving 10 of the top 18 places, highlights yet again that our members are second to none in delivering a world-class academic experience.
"Deciding on which university to attend is an increasingly important choice in a very competitive jobs market.
"Savvy students have worked out that 1994 group universities deliver the very best academic experience through a combination of world-class research, a commitment to research-led teaching, and the highest levels of student satisfaction."
Dr Wendy Piatt, director-general of the Russell group of older research-intensive universities, said they continued to excel.
"Evidence demonstrates that learning in an inquiry-based environment, where teaching is enriched by research, provides a real benefit to students.
"The high-quality teaching and research undertaken by our universities builds the UK's knowledge base and gives our students highly employable critical thinking and leadership skills."
She said Russell group institutions scored highly in the most important categories, including career prospects. "Our universities have, for many years, been developing a range of schemes to enhance graduate employability, including work-based learning, internships in coveted professions, and tailored guidance to help students consolidate the skills that are valued by employers," said Piatt.
The top three places in the league table for specialist institutions have shifted, though conservatoires still dominate.
The Royal Academy of Music ranks first, up from third place last year, taking over from the Courtauld Institute, which drops to second place in the 2010 tables.
The Royal Scottish Academy of Music and Drama falls to third place from second last year.
• The Guardian University Guide and The Guardian Postgraduate Guide are now available from Guardian Books.
Students at Oxford University. Photograph: Graham Turner
Oxford University holds on to its position as the UK's leading teaching institution in the Guardian's university league tables, to be published tomorrow.
The tables provide vital information for students who face the toughest ever competition for university places this year.
Oxford scores highly on teaching quality, student satisfaction and career prospects.
It also spends the highest amount per student. Dr John Hood, Oxford's vice-chancellor, warned last month that the university was suffering unsustainable losses because of the cost of teaching its undergraduates.
Oxford's traditional rival, Cambridge University, retains its second-place ranking, with St Andrews University moving up from fifth spot last year to third place in the 2010 tables.
Britain's oldest universities still dominate the high rankings this year, with the London School of Economics fifth, Edinburgh seventh, and Imperial College London eighth.
But universities founded in the 1960s have also made the top 10: Warwick retains fourth position and Loughborough the tenth spot; Bath ranks ninth, up from 13th last year. Sussex has leapt 15 places to 18th, and Herriot-Watt rises from 52nd to 22nd place this year.
Prof Paul Curran, vice-chancellor of Bournemouth University, which has come top of the post-1992 universities for the second year running, said its 32nd ranking was down to investing in staff.
"We focused very clearly on academic excellence and investing in academic staff and our performance has improved dramatically.
"We've recruited 150 new staff over two years and doubled the number of staff who have doctorates, which has improved the student experience.
"Academic staff who are really enthusiastic about their subject is what we think students want, and the results would indicate that."
Newer universities tend to do less well in the Guardian's tables because they spend less money on teaching, they have lower ratios of staff to students, and their students are less happy with the feedback they get.
Paul Marshall, executive director of the 1994 group of smaller, research-intensive institutions, said: "The excellent performance of 1994 group universities in these national league tables, achieving 10 of the top 18 places, highlights yet again that our members are second to none in delivering a world-class academic experience.
"Deciding on which university to attend is an increasingly important choice in a very competitive jobs market.
"Savvy students have worked out that 1994 group universities deliver the very best academic experience through a combination of world-class research, a commitment to research-led teaching, and the highest levels of student satisfaction."
Dr Wendy Piatt, director-general of the Russell group of older research-intensive universities, said they continued to excel.
"Evidence demonstrates that learning in an inquiry-based environment, where teaching is enriched by research, provides a real benefit to students.
"The high-quality teaching and research undertaken by our universities builds the UK's knowledge base and gives our students highly employable critical thinking and leadership skills."
She said Russell group institutions scored highly in the most important categories, including career prospects. "Our universities have, for many years, been developing a range of schemes to enhance graduate employability, including work-based learning, internships in coveted professions, and tailored guidance to help students consolidate the skills that are valued by employers," said Piatt.
The top three places in the league table for specialist institutions have shifted, though conservatoires still dominate.
The Royal Academy of Music ranks first, up from third place last year, taking over from the Courtauld Institute, which drops to second place in the 2010 tables.
The Royal Scottish Academy of Music and Drama falls to third place from second last year.
• The Guardian University Guide and The Guardian Postgraduate Guide are now available from Guardian Books.
The Difference Between Student Loans And Scholarships
The issue about the rising cost of education is not new for everyone, be it for rich people or for the those just barely earning a living.
However, this is not of so much of a threat for those who want to enter college but are not capable to meet its expenses. This is because of the two choices made available for them, first is the scholarship programs. And the second is the student loans. They may apply to either of the two.
Basically, the scholarship gives off monetary award which do not require the beneficiary to repay it. Unlike the student loan, the money that was lent to the students will be paid after some time with the corresponding amount plus interests.
Hence, it seems to be apparent that taking a scholarship program is more convenient than the student loan. Yet, you should know that both still consists of its advantages and disadvantages.
In scholarship, the students need not worry about finances throughout his college years. Almost thousands of scholarships are made available yearly. The systems of the programs depend on the financial needs of a certain student.
Although, it doesn't necessarily mean that you are not intelligent because you were not be able to acquire a scholarship. There are various types of scholarship, one is for the intellectuals who acquire and maintain high grades. The other is the specific scholarships designed for the ones who excel in definite fields, for instance, in the field of sports, math, science, music, stage performers and others.
Those who belong in average I.Q. may still win a scholarship. They may not possess the remarkable level of intelligence to win a scholarship, but their talents may secure them one.
Moreover, there are also scholarships designed for certain races, minorities, and other sectors of the society that needs monetary support. And scholarship is not just confined to college students, the students who would want to pursue further study may also benefit.
There are also several institutions that offer scholarship programs to their members, examples of this are the religious organization and union groups, etc.
Now, if you think you won't be legible for any scholarship, there is still one option - student loans.
Student loans, as mentioned above is the financial aid given to the students to pay their tution with the agreement to repay it with the corresponding interests in a given period.
Scholarships do not require for repayment, but student loans do.
The advantage of a student loan is that it will give you freedom to move as a regular student, without the pressure of maintaining high grades and you can do your other activities without thinking of the conflict in the training schedules.
The hassle is when you would consider it, student loans need to be repaid the moment you graduate; you have to pay to the very last cent plus the interests.
If you are the bread winner of your family, paying for it will be another burden though you already have secured a job.
Anyhow, it will depend on you, the important thing is you finish your college education and secure a diploma, be it from a scholarship or through student loans.
The achievement of earning your college education amidst the hindrance of money is the thing you will always be proud of.
Author: Paul Hata
More information about :
- Scholarship
- Student Loan
However, this is not of so much of a threat for those who want to enter college but are not capable to meet its expenses. This is because of the two choices made available for them, first is the scholarship programs. And the second is the student loans. They may apply to either of the two.
Basically, the scholarship gives off monetary award which do not require the beneficiary to repay it. Unlike the student loan, the money that was lent to the students will be paid after some time with the corresponding amount plus interests.
Hence, it seems to be apparent that taking a scholarship program is more convenient than the student loan. Yet, you should know that both still consists of its advantages and disadvantages.
In scholarship, the students need not worry about finances throughout his college years. Almost thousands of scholarships are made available yearly. The systems of the programs depend on the financial needs of a certain student.
Although, it doesn't necessarily mean that you are not intelligent because you were not be able to acquire a scholarship. There are various types of scholarship, one is for the intellectuals who acquire and maintain high grades. The other is the specific scholarships designed for the ones who excel in definite fields, for instance, in the field of sports, math, science, music, stage performers and others.
Those who belong in average I.Q. may still win a scholarship. They may not possess the remarkable level of intelligence to win a scholarship, but their talents may secure them one.
Moreover, there are also scholarships designed for certain races, minorities, and other sectors of the society that needs monetary support. And scholarship is not just confined to college students, the students who would want to pursue further study may also benefit.
There are also several institutions that offer scholarship programs to their members, examples of this are the religious organization and union groups, etc.
Now, if you think you won't be legible for any scholarship, there is still one option - student loans.
Student loans, as mentioned above is the financial aid given to the students to pay their tution with the agreement to repay it with the corresponding interests in a given period.
Scholarships do not require for repayment, but student loans do.
The advantage of a student loan is that it will give you freedom to move as a regular student, without the pressure of maintaining high grades and you can do your other activities without thinking of the conflict in the training schedules.
The hassle is when you would consider it, student loans need to be repaid the moment you graduate; you have to pay to the very last cent plus the interests.
If you are the bread winner of your family, paying for it will be another burden though you already have secured a job.
Anyhow, it will depend on you, the important thing is you finish your college education and secure a diploma, be it from a scholarship or through student loans.
The achievement of earning your college education amidst the hindrance of money is the thing you will always be proud of.
Author: Paul Hata
More information about :
- Scholarship
- Student Loan
Tips to Get The Right Teaching Job
Djati Murti
Teaching is one of the most competitive fields to get into nowadays and therefore it is absolutely vital that you show off your skills in your application and write why you would be the best person for the job. Try and market and sell yourself really well so that your application stands out among the rest of the applications that have been received.
Examples of the types and category of questions that you may be asked in an interview or application for a teaching position are highlighted below.
Training and qualifications
You may be asked for elaborations about any practical training that you have completed and specific qualifications as well as any best practices that you could bring to the institution regarding teaching and meeting the teaching targets.
Teaching skills and experience
This will mainly cover things on your CV as well as any general experiences that you have had including things like the different aspects of teaching you have been involved in from creating the material to setting the standards and helping students pass the subject with flying colours. Talk about mentoring and how you’ve helped various students progress fairly quickly to the standards that they are at now and giving examples of subject matters that you have taught including any challenges and how you overcame them.
The core competencies that you feel a teacher should possess
This looks at things like ability to communicate with large groups of students as well the ability to communicate a particular teaching subject to the student to help them grasps the subject matter. Looking at lecture management skills and lesson planning as well as general time management skills to manage time across teaching, research oriented and administration related tasks.
Personality and motivation and passion for teaching
This would involve looking at how you can manage different behaviours and opinions about the subject area as well as talking more about why you chose the subject area to teach, how that subject area motivates you and the kinds of things that you incorporate into the teaching such as the use of interactive tools to make the subject more engaging.
The interview may conclude with queries on the various issues facing the education sector in general and how these can impact the educational institution that you teach in.
Bob Brightside
About the author:
Bob Brightside, Educational recruitment tips is one of the many topics that Bob writes about. If you would like to know more about university teaching jobs & lecturer vacancies or lecturing and assessor jobs and vacancies, please visit the Protocol National website now.
Teaching is one of the most competitive fields to get into nowadays and therefore it is absolutely vital that you show off your skills in your application and write why you would be the best person for the job. Try and market and sell yourself really well so that your application stands out among the rest of the applications that have been received.
Examples of the types and category of questions that you may be asked in an interview or application for a teaching position are highlighted below.
Training and qualifications
You may be asked for elaborations about any practical training that you have completed and specific qualifications as well as any best practices that you could bring to the institution regarding teaching and meeting the teaching targets.
Teaching skills and experience
This will mainly cover things on your CV as well as any general experiences that you have had including things like the different aspects of teaching you have been involved in from creating the material to setting the standards and helping students pass the subject with flying colours. Talk about mentoring and how you’ve helped various students progress fairly quickly to the standards that they are at now and giving examples of subject matters that you have taught including any challenges and how you overcame them.
The core competencies that you feel a teacher should possess
This looks at things like ability to communicate with large groups of students as well the ability to communicate a particular teaching subject to the student to help them grasps the subject matter. Looking at lecture management skills and lesson planning as well as general time management skills to manage time across teaching, research oriented and administration related tasks.
Personality and motivation and passion for teaching
This would involve looking at how you can manage different behaviours and opinions about the subject area as well as talking more about why you chose the subject area to teach, how that subject area motivates you and the kinds of things that you incorporate into the teaching such as the use of interactive tools to make the subject more engaging.
The interview may conclude with queries on the various issues facing the education sector in general and how these can impact the educational institution that you teach in.
Bob Brightside
About the author:
Bob Brightside, Educational recruitment tips is one of the many topics that Bob writes about. If you would like to know more about university teaching jobs & lecturer vacancies or lecturing and assessor jobs and vacancies, please visit the Protocol National website now.
Kamis, 04 Maret 2010
Komite Sekolah; Sejarah dan Prospeknya di Masa Depan
Satu hal yang patut disyukuri pada era reformasi adalah imbas positif terhadap dunia pendidikan. Otonomi daerah yang dilegalisasi lewat Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian disempurnakan menjadi UU Nomor 32 tahunn 2004, menjadi rahim yang telah melahirkan desentralisasi pendidikan.
Judul : Komite Sekolah; Sejarah dan Prospeknya di Masa Depan
Penulis : Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.Si., Drs. Agus Haryanto, M.Ed.,
Drs. Suparlan, M.Ed., dan Yudistira, S.Sos., M.Si.
Penerbit : Hikayat Publishing
Terbit : April 2008
Tebal : 140 hal + xii
Satu hal yang patut disyukuri pada era reformasi adalah imbas positif terhadap dunia pendidikan. Otonomi daerah yang dilegalisasi lewat Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian disempurnakan menjadi UU Nomor 32 tahunn 2004, menjadi rahim yang telah melahirkan desentralisasi pendidikan. Paradigma lama yang menempatkan pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan utama (sentralisasi) dikikis sedemikian rupa menjadi paradigma baru yang lebih populis.
Ciri utama desentralisasi pendidikan yaitu pelibatan orangtua siswa dan masyarakat dalam menentukan kebijakan pendidikan. Dua komponen ini bekerjasama dengan sekolah, duduk dalam satu meja, merencanakan dan mendiskusikan bagaimana menyelesaikan masalah pemerataan pendidikan sekaligus juga meningkatkan mutu pendidikan.
Dulu, sebelum orde reformasi, antara orangtua dan pihak sekolah diwadahi dalam lembaga Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG). Kemudian, sejak 1993, POMG berubah menjadi Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). Badan inilah yang secara fungsional membantu sekolah menyelesaikan persoalan pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Namun dalam perjalanannya badan ini sekadar berperan dalam aspek finansial. Secara hirarkis pun dikontrol oleh kepala sekolah dan menjadi alat legalnya untuk menarik berbagai pungutan kepada orangtua siswa.
Memasuki era desentralisasi pendidikan, upaya pelibatan orangtua dan sekolah dalam satu wadah diperkaya lagi dengan memasukkan unsur masyarakat. Ketiga komponen ini disatukan dalam wadah Komite Sekolah sesuai Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.
Komite Sekolah merupakan badan mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan sekolah.
Buku ini mengupas secara rinci perjalanan Komite Sekolah sejak awal berdiri hingga perkembangan terkini. Diuraikan pula integralitas pendidikan yang oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara disebut Tripusat Pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengatakan pendidikan berlangsung di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Hasil analisis buku ini menyatakan, relasi antara pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat (Tripusat Pendidikan) di Indonesia pada saat ini masih berkisar antara paradigma lama dan transisional. Hal demikian terindikasi dalam kondisi sebagai berikut: (1) Keluarga, sekolah, dan masyarakat masih memandang hasil belajar siswa lebih pada sisi kemampuan akademik dan pengetahuan, (2) Hubungan keluarga dan sekolah masih bersifat satu arah, hirarkis, dan birokratis, (3) Antara keluarga dan sekolah masih bersifat saling defensif, (4) Perbedaan kultural dan sosial masih kurang mendapatkan perhatian secara wajar, (5) Sekolah sering memandang masyarakat sebagai orang lain atau pihak yang berada di luar sekolah, kecuali diperlukan.
Paradigma tersebut sangat memengaruhi perjalanan Komite Sekolah. Bahkan terjadi pula “ketegangan-ketegangan” seputar relasi antara Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Di lapangan, pada sejumlah kasus, Komite Sekolah hanya sebagai “stempel” Kepala Sekolah. Ia menjadi alat legalisasi Kepala Sekolah dalam menentukan berbagai kebijakan di sekolah. Di kutub berbeda, Komite Sekolah memosisikan diri lebih superior ketimbang Kepala Sekolah. Apapun gerak-gerik Kepala Sekolah diawasi. Bila Kepala Sekolah melakukan kesalahan sekecil apapun, Komite Sekolah akan mengadukannya kepada Dinas Pendidikan setempat. Kalau perlu, diusulkan untuk diganti.
Buku ini ditulis secara bersama oleh Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.Si., Drs. Agus Haryanto, M.Ed., Drs. Suparlan, M. Ed., dan Yudistira, S.Sos., M.Si. Semuanya bekerja di Bagian Perencanaan Sekretariat Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Kendati kesemua penulis nota bene bagian dari aparat birokrasi, namun dalam penyajian buku ini mereka seolah “melupakan” atribut tersebut. Catatan-catatan mereka amat kritis terhadap aparat birokrasi pendidikan yang menyebabkan pendidikan makin merosot.
Itu terlihat dalam sikap mereka terhadap kasus bunuh diri yang dilakukan siswa lantaran belum membayar uang sekolah. “Jika di satu sekolah terdapat siswa bunuh diri karena malu belum membayar uang sekolah, maka apakah yang harus dilakukan oleh guru, Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, Ketua Dewan Pendidikan, Kepala Desa, atau juga Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota, dan juga Bupati atau Walikotanya? Hanya ada satu jalan keluar yang mungkin dipandang sangat tepat, yakni mengundurkan diri secara jantan dari jabatan yang diemban. Karena fenomena itu dapat menjadi bukti tentang ketidakmampuannya mengurus pendidikan.” (hal.116-117).
Dengan mengambil posisi demikian, mereka dapat secara kritis dan komprehensif memandang Komite Sekolah. Pembahasannya juga dilengkapi contoh kasus di lapangan sehingga buku ini jauh dari kesan Buku Panduan.
Buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi aparat birokrasi pendidikan, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mengenal Komite Sekolah lebih dekat lagi. Berguna pula bagi para pengambil kebijakan yang menginginkan dunia pendidikan menjadi lebih baik.
Judul : Komite Sekolah; Sejarah dan Prospeknya di Masa Depan
Penulis : Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.Si., Drs. Agus Haryanto, M.Ed.,
Drs. Suparlan, M.Ed., dan Yudistira, S.Sos., M.Si.
Penerbit : Hikayat Publishing
Terbit : April 2008
Tebal : 140 hal + xii
Satu hal yang patut disyukuri pada era reformasi adalah imbas positif terhadap dunia pendidikan. Otonomi daerah yang dilegalisasi lewat Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian disempurnakan menjadi UU Nomor 32 tahunn 2004, menjadi rahim yang telah melahirkan desentralisasi pendidikan. Paradigma lama yang menempatkan pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan utama (sentralisasi) dikikis sedemikian rupa menjadi paradigma baru yang lebih populis.
Ciri utama desentralisasi pendidikan yaitu pelibatan orangtua siswa dan masyarakat dalam menentukan kebijakan pendidikan. Dua komponen ini bekerjasama dengan sekolah, duduk dalam satu meja, merencanakan dan mendiskusikan bagaimana menyelesaikan masalah pemerataan pendidikan sekaligus juga meningkatkan mutu pendidikan.
Dulu, sebelum orde reformasi, antara orangtua dan pihak sekolah diwadahi dalam lembaga Persatuan Orangtua Murid dan Guru (POMG). Kemudian, sejak 1993, POMG berubah menjadi Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). Badan inilah yang secara fungsional membantu sekolah menyelesaikan persoalan pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Namun dalam perjalanannya badan ini sekadar berperan dalam aspek finansial. Secara hirarkis pun dikontrol oleh kepala sekolah dan menjadi alat legalnya untuk menarik berbagai pungutan kepada orangtua siswa.
Memasuki era desentralisasi pendidikan, upaya pelibatan orangtua dan sekolah dalam satu wadah diperkaya lagi dengan memasukkan unsur masyarakat. Ketiga komponen ini disatukan dalam wadah Komite Sekolah sesuai Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.
Komite Sekolah merupakan badan mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan sekolah.
Buku ini mengupas secara rinci perjalanan Komite Sekolah sejak awal berdiri hingga perkembangan terkini. Diuraikan pula integralitas pendidikan yang oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara disebut Tripusat Pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengatakan pendidikan berlangsung di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Hasil analisis buku ini menyatakan, relasi antara pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat (Tripusat Pendidikan) di Indonesia pada saat ini masih berkisar antara paradigma lama dan transisional. Hal demikian terindikasi dalam kondisi sebagai berikut: (1) Keluarga, sekolah, dan masyarakat masih memandang hasil belajar siswa lebih pada sisi kemampuan akademik dan pengetahuan, (2) Hubungan keluarga dan sekolah masih bersifat satu arah, hirarkis, dan birokratis, (3) Antara keluarga dan sekolah masih bersifat saling defensif, (4) Perbedaan kultural dan sosial masih kurang mendapatkan perhatian secara wajar, (5) Sekolah sering memandang masyarakat sebagai orang lain atau pihak yang berada di luar sekolah, kecuali diperlukan.
Paradigma tersebut sangat memengaruhi perjalanan Komite Sekolah. Bahkan terjadi pula “ketegangan-ketegangan” seputar relasi antara Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Di lapangan, pada sejumlah kasus, Komite Sekolah hanya sebagai “stempel” Kepala Sekolah. Ia menjadi alat legalisasi Kepala Sekolah dalam menentukan berbagai kebijakan di sekolah. Di kutub berbeda, Komite Sekolah memosisikan diri lebih superior ketimbang Kepala Sekolah. Apapun gerak-gerik Kepala Sekolah diawasi. Bila Kepala Sekolah melakukan kesalahan sekecil apapun, Komite Sekolah akan mengadukannya kepada Dinas Pendidikan setempat. Kalau perlu, diusulkan untuk diganti.
Buku ini ditulis secara bersama oleh Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.Si., Drs. Agus Haryanto, M.Ed., Drs. Suparlan, M. Ed., dan Yudistira, S.Sos., M.Si. Semuanya bekerja di Bagian Perencanaan Sekretariat Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Kendati kesemua penulis nota bene bagian dari aparat birokrasi, namun dalam penyajian buku ini mereka seolah “melupakan” atribut tersebut. Catatan-catatan mereka amat kritis terhadap aparat birokrasi pendidikan yang menyebabkan pendidikan makin merosot.
Itu terlihat dalam sikap mereka terhadap kasus bunuh diri yang dilakukan siswa lantaran belum membayar uang sekolah. “Jika di satu sekolah terdapat siswa bunuh diri karena malu belum membayar uang sekolah, maka apakah yang harus dilakukan oleh guru, Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, Ketua Dewan Pendidikan, Kepala Desa, atau juga Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota, dan juga Bupati atau Walikotanya? Hanya ada satu jalan keluar yang mungkin dipandang sangat tepat, yakni mengundurkan diri secara jantan dari jabatan yang diemban. Karena fenomena itu dapat menjadi bukti tentang ketidakmampuannya mengurus pendidikan.” (hal.116-117).
Dengan mengambil posisi demikian, mereka dapat secara kritis dan komprehensif memandang Komite Sekolah. Pembahasannya juga dilengkapi contoh kasus di lapangan sehingga buku ini jauh dari kesan Buku Panduan.
Buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi aparat birokrasi pendidikan, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mengenal Komite Sekolah lebih dekat lagi. Berguna pula bagi para pengambil kebijakan yang menginginkan dunia pendidikan menjadi lebih baik.
Narkoba Predator Pendidikan
Kampanye anti narkoba tak boleh berhenti dan juga tak boleh bersifat musiman: gencar ketika ada korban baru dan bandar baru yang tertangkap basah, atau menggebu ketika menyambut peringatan Hari Anti Narkoba. Dunia pendidikan harus memandang narkoba sebagai common enemy yang bersifat abadi bagi siapa saja yang menjadi pelaku, pengguna, peserta, maupun stakeholder pendidikan. Jangan sampai memberi kesempatan narkoba masuk ke dalam wilayah satuan pendidikan di berbagai jenjang secara leluasa sehingga akhirnya akan menjadi predator terhadap berbagai program yang sedang dan akan dilaksanakan. Kalau kita bersikap demikian tentu tidak berarti mengada-ada dan mendramatisir sebuah fenomona maupun gaya hidup yang sesat, dari para pemakai maupun pengedar narkoba. Betapa bahayanya narkoba bagi para siswa kita harus selalu kita bisikkan secara pedagogis kepada para siswa kita tanpa putus asa dan tanpa mengenal lelah. Mengapa begitu? Karena Narkoba tidak mengenal lapisan masyarakat manapun yang akan menjadi korbannya. Keluarga orang kaya raya, berada, tidak berada, miskin, terhormat, dan keluarga biasa-biasa saja yang hidupnya pas-pasan-pun bisa jadi korban narkoba manakala mereka tidak memiliki ketahanan diri untuk menolaknya.
Menurut data yang dilansir oleh Lembaga PBB-UN Office on Drugs and Crime (UNODC) saat ini tiap hari ada paling tidak 40 orang meninggal sia-sia karena narkoba. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau semua sekolah memiliki program anti narkoba, betapapun sederhana dalam agenda aksinya. Jika semua sekolah memiliki program anti narkoba, berati kita akan bisa menyelamatkan korban potensial yang ada di lingkungan sekolah kita. Pertolongan dan perlindungan kepada para siswa agar tidak terjerumus ke pengguna atau pengedar narkoba sangat penting karena siapa saja yang berhubungan dengan narkoba peluang menemui ajal sangat besar baik itu akibat dari ketergantungan yang mengarah pada overdosis, maupun harus menjalani hukuman tembak mati karena putusan pidana. Dunia pendidikan tidak bisa membiarkan para siswa kita mengalami nasib yng tragis seperti itu. Tindakan preventif edukatif sangat diperlukan di sekolah kita masing-masing.
Paling mudah yang bisa dilakukan sekolah adalah menegakkan disiplin, melarang anak-anak merokok, membiasakan pola hidup sehat, mebudayakan komunikasi dua arah secara terbuka antar sesama siswa dengan siswa, maupun siswa dengan para guru dan kepala sekolah. Hidup disiplin merupakan modal awal bagi terbentuknya ketahanan diri siswa dalam menyikapi berbagai tawaran gaya hidup yang tidak sesuai dengan peradaban dan kriteria moral yang mulia. Kalau saja anak-anak kita memiliki ketahanan diri dalam menentukan pilihan moral, akhirnya dengan mudah anak-anak kita untuk mengatakan tidak pada setiap tawaran agar mencoba menggunakan narkoba dalam kehidupannya.
Sekolah juga harus waspada terhadap anak-anak kita yang sudah memulai merokok di usia yang belia. Saat ini ada kecenderungan anak-anak kita sudah mengenal kebiasaan merokok pada usia yang semakin dini. Anak-anak kelas empat SD sudah ada yang memiliki kebiasaan merokok. Kebiasaan merokok bagi siswa memiliki tingkat kerentanan yang tinggi untuk naik ke kelas yang lebih beresiko ke pemakaian narkoba. Mengapa begitu? Karena pada kenyataanya 98% pecandu narkoba adalah juga perokok. Jadi rokok merupakan jalan masuk yang beresiko tinggi ke dunia narkoba bagi anak-anak kita. Oleh karena itu harus kita waspadai.
Membiasakan para siswa untuk memiliki pola hidup sehat merupakan salah satu cara yang baik bagi sekolah untuk melindungi anak-anak dari sentuhan narkoba. Oleh karena itu pengetahuan sederhana mengenai bahaya narkoba perlu disampaikan kepada para siswa secara baik. Kesehatan merupakan barang yang tak ternilai harganya bagi setiap siswa. Anak-anak harus mampu menjaga kesehatan dengan baik agar mereka bisa menjadi orang yang memiliki produktivitas yang tinggi. Dengan demikian akhirnya mereka juga bisa menjadi asset penting bagi negara. Sebaliknya pola hidup yang tidak sehat bisa mengarah pada rendahnya kegunaan diri mereka bagi keluarga, masyarakat, maupun keluarga. Akhirnya mereka menjadi beban bagi masyarakat maupun keluarganya.
Membangun komunikasi terbuka dua arah dan bahkan multi arah pada komunitas sekolah sangat penting bagi pertumbuhan social skills anak-anak kita. Para siswa yang memiliki social skills yang baik akan bisa berkembang menjadi insan yang terbuka, demokratis, partisipatif, dan dengan demikian akan memiliki sikap positif dalam tata pergaulan. Anak-anak yang demikian akan memiliki kecenderungan untuk berbagi dalam banyak hal. Sikap seperti ini akan menjadi modal penting untuk tumbuhnya ketahanan diri manakala mereka harus menghadapi banyak pilihan yang beresiko bagi dirinya. Sebaliknya anak-anak yang tidak memiliki social skills yang baik akan cenderung menghadapi apa saja dalam kesendirian, dan dengan demikian tidak pernah mendapatkan umpan balik dari komunitasnya. Anak-anak seperti ini akan memutuskan sesuatu dalam kondisi kesendirian dengan serba kekurangan informasi. Dalam kondisi seperti ini kalau tidak beruntung akan menghasilkan sebuah keputusan yang bisa jadi sungguh beresiko bagi dirinya. Maka dari itu sekolah perlu membangun sistem komunikasi sosial yang baik dalam kesehariannya agar para siswa memiliki social skills yang baik dalam menghadapi tawaran fihak lain untuk mencoba narkoba.
Semua upaya yang dibicarakan di atas harus juga dilakukan oleh orangtua dalam lingkup keluarga. Hal ini perlu dilakukan oleh orangtua agar ada konsistensi nilai (values) antara pendidikan formal di sekolah dan pendidikan informal di lingkup keluarga. Orangtua harus tidak bosan untuk mengajak anak memiliki pola hidup disiplin dan sehat, menjauhi rokok, berkomunikasi secara terbuka sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas sekolah. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar perkembangan social skills anak-anak kita lebih optimal. Ini semua harus dilakukan oleh keluarga karena fakta menunjukkan, terhadap anak-anak yang memiliki persoalan dengan narkoba, orangtua mereka pada umumnya merupakan orang yang paling akhir mengetahuinya setelah diberitahu oleh fihak lain atau bahkan oleh polisi.
Menurut data yang dilansir oleh Lembaga PBB-UN Office on Drugs and Crime (UNODC) saat ini tiap hari ada paling tidak 40 orang meninggal sia-sia karena narkoba. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau semua sekolah memiliki program anti narkoba, betapapun sederhana dalam agenda aksinya. Jika semua sekolah memiliki program anti narkoba, berati kita akan bisa menyelamatkan korban potensial yang ada di lingkungan sekolah kita. Pertolongan dan perlindungan kepada para siswa agar tidak terjerumus ke pengguna atau pengedar narkoba sangat penting karena siapa saja yang berhubungan dengan narkoba peluang menemui ajal sangat besar baik itu akibat dari ketergantungan yang mengarah pada overdosis, maupun harus menjalani hukuman tembak mati karena putusan pidana. Dunia pendidikan tidak bisa membiarkan para siswa kita mengalami nasib yng tragis seperti itu. Tindakan preventif edukatif sangat diperlukan di sekolah kita masing-masing.
Paling mudah yang bisa dilakukan sekolah adalah menegakkan disiplin, melarang anak-anak merokok, membiasakan pola hidup sehat, mebudayakan komunikasi dua arah secara terbuka antar sesama siswa dengan siswa, maupun siswa dengan para guru dan kepala sekolah. Hidup disiplin merupakan modal awal bagi terbentuknya ketahanan diri siswa dalam menyikapi berbagai tawaran gaya hidup yang tidak sesuai dengan peradaban dan kriteria moral yang mulia. Kalau saja anak-anak kita memiliki ketahanan diri dalam menentukan pilihan moral, akhirnya dengan mudah anak-anak kita untuk mengatakan tidak pada setiap tawaran agar mencoba menggunakan narkoba dalam kehidupannya.
Sekolah juga harus waspada terhadap anak-anak kita yang sudah memulai merokok di usia yang belia. Saat ini ada kecenderungan anak-anak kita sudah mengenal kebiasaan merokok pada usia yang semakin dini. Anak-anak kelas empat SD sudah ada yang memiliki kebiasaan merokok. Kebiasaan merokok bagi siswa memiliki tingkat kerentanan yang tinggi untuk naik ke kelas yang lebih beresiko ke pemakaian narkoba. Mengapa begitu? Karena pada kenyataanya 98% pecandu narkoba adalah juga perokok. Jadi rokok merupakan jalan masuk yang beresiko tinggi ke dunia narkoba bagi anak-anak kita. Oleh karena itu harus kita waspadai.
Membiasakan para siswa untuk memiliki pola hidup sehat merupakan salah satu cara yang baik bagi sekolah untuk melindungi anak-anak dari sentuhan narkoba. Oleh karena itu pengetahuan sederhana mengenai bahaya narkoba perlu disampaikan kepada para siswa secara baik. Kesehatan merupakan barang yang tak ternilai harganya bagi setiap siswa. Anak-anak harus mampu menjaga kesehatan dengan baik agar mereka bisa menjadi orang yang memiliki produktivitas yang tinggi. Dengan demikian akhirnya mereka juga bisa menjadi asset penting bagi negara. Sebaliknya pola hidup yang tidak sehat bisa mengarah pada rendahnya kegunaan diri mereka bagi keluarga, masyarakat, maupun keluarga. Akhirnya mereka menjadi beban bagi masyarakat maupun keluarganya.
Membangun komunikasi terbuka dua arah dan bahkan multi arah pada komunitas sekolah sangat penting bagi pertumbuhan social skills anak-anak kita. Para siswa yang memiliki social skills yang baik akan bisa berkembang menjadi insan yang terbuka, demokratis, partisipatif, dan dengan demikian akan memiliki sikap positif dalam tata pergaulan. Anak-anak yang demikian akan memiliki kecenderungan untuk berbagi dalam banyak hal. Sikap seperti ini akan menjadi modal penting untuk tumbuhnya ketahanan diri manakala mereka harus menghadapi banyak pilihan yang beresiko bagi dirinya. Sebaliknya anak-anak yang tidak memiliki social skills yang baik akan cenderung menghadapi apa saja dalam kesendirian, dan dengan demikian tidak pernah mendapatkan umpan balik dari komunitasnya. Anak-anak seperti ini akan memutuskan sesuatu dalam kondisi kesendirian dengan serba kekurangan informasi. Dalam kondisi seperti ini kalau tidak beruntung akan menghasilkan sebuah keputusan yang bisa jadi sungguh beresiko bagi dirinya. Maka dari itu sekolah perlu membangun sistem komunikasi sosial yang baik dalam kesehariannya agar para siswa memiliki social skills yang baik dalam menghadapi tawaran fihak lain untuk mencoba narkoba.
Semua upaya yang dibicarakan di atas harus juga dilakukan oleh orangtua dalam lingkup keluarga. Hal ini perlu dilakukan oleh orangtua agar ada konsistensi nilai (values) antara pendidikan formal di sekolah dan pendidikan informal di lingkup keluarga. Orangtua harus tidak bosan untuk mengajak anak memiliki pola hidup disiplin dan sehat, menjauhi rokok, berkomunikasi secara terbuka sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas sekolah. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar perkembangan social skills anak-anak kita lebih optimal. Ini semua harus dilakukan oleh keluarga karena fakta menunjukkan, terhadap anak-anak yang memiliki persoalan dengan narkoba, orangtua mereka pada umumnya merupakan orang yang paling akhir mengetahuinya setelah diberitahu oleh fihak lain atau bahkan oleh polisi.
Anak Didik Ibarat Benih, yang Akan Menjadi Bunga
Mendiknas, Prof. Dr. H. Mohammad Nuh, DEA., menjawab dengan sabar pelbagai pertanyaan wartawan.
Depok (Mandikdasmen): Anak-anak didik itu ibarat benih. Meski pada mulanya tidak memiliki bentuk yang menarik, namun bila benih itu disemai dan terus-menerus dirawat dengan baik, suatu ketika nanti akan tumbuh berkembang menjadi bunga yang segar dan bermanfaat. Demikian filosofi pendidikan bagi anak menurut Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. H. Mohammad Nuh, DEA.
“Kalau itu kita tarik pada kondisi riil, apa yang kita lakukan sekarang ini adalah sedang menanam benih, dan merawat benih-benih itu, yang insya Allah ke depannya akan menjadi bunga-bunga yang berkembang dan mekar,” jelas Mohammad Nuh, di hadapan sekitar 600 peserta Rembuk Nasional Pendidikan, di Gedung Garuda, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai (Pusdiklat) Kementerian Pendidikan Nasional, Bojongsari, Depok, Rabu kemarin (03/03).
Benih itu, lanjut Mohammad Nuh, bila dilihat secara fisik memang berbeda jauh dengan bunga. Bentuk benih kecil-kecil dan sama sekali tidak menarik, sementara bunga indah dan menawan. Namun dari ketidakmenarikan itu, kalau disemai dan dirawat terus menerus, nanti akan menjadi bunga yang luar biasa ragamnya. Jadi jangan meremehkan benih-benih tersebut. Meski pun secara lahiriyah tidak menampakkan keindahan, tapi di balik benih-benih itu menyimpan potensi yang luar biasa.
“Murid-murid kita, mahasiswa kita, yang sekarang ini bisa jadi tidak menarik, seperti tidak menariknya kita waktu muda dulu. Dan, siapa sih yang mengira panjenengan (anda) sekalian bisa menjadi rektor 40 tahun yang lalu? Siapa yang mengira panjenengan semua bisa jadi kepala dinas? Tidak ada yang bisa mengira kan,” lanjut Mohammad Nuh.
Menyadari ketidaktahuan manusia terhadap masa depan atau nasib tersebut, Mohammad Nuh mengajak segenap pelaku pendidikan untuk mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta sabar, agar suatu ketika nanti bisa tumbuh berkembang menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Simbol benih dan bunga yang diperuntukkan sebagai media penjelasan tentang filosofi pendidikan bagi anak-anak tersebut, diambil Mohammad Nuh dari kalimat bijak yang tertulis dalam sebuah buku karya Lilik, seorang ibu yang rajin mengurusi anak-anak, yaitu; all the flowers of all the tomorrows are in the seeds of the day (seluruh bunga yang ada di hari esok, adalah benih-benih hari ini).
“Beliau menulis satu buku, dan di situ ada kata bijaknya yang saya ambil saat ini. Dan kalau saya tidak menyebutkan itu, maka saya plagiat. Plagiat itu kan definisinya mengambil karya orang lain, tanpa memberikan kredit pada orang yang memilikinya,” kata Muhammad Nuh.
Sebelum mengakhiri pidatonya, Muhammad Nuh mengajak setiap orang agar tidak menjadikan pendidikan sebagai komoditas politik. Menurutnya, hendaknya pendidikan dibiarkan hidup di alamnya sendiri. Karena ketika pendidikan sudah menjadi komoditas politik, yang terjadi adalah transaksi, dan ini merupakan fenomena yang tidak sehat.
“Bukan berarti para calon pemimpin itu tidak boleh mengkampanyekan pendidikan. Itu boleh-boleh saja sebagai bentuk komitmen. Tapi jangan dijadikan sebagai barang dagangan. Karena bila pendidikan tetap berada di alamnya sendiri, insya Allah tidak ada kepala dinas yang merasa takut saat menjalankan misi sesuai dengan jobnya. Mereka tak kan takut diganti dengan seseorang yang tidak memiliki kompetensi di urusan pendidikan,” kata Muhammad Nuh yakin, dan disambut applaus para peserta Rembuk Nasional Pendidikan yang mayoritas merupakan kepala dinas pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten /kota.*
Depok (Mandikdasmen): Anak-anak didik itu ibarat benih. Meski pada mulanya tidak memiliki bentuk yang menarik, namun bila benih itu disemai dan terus-menerus dirawat dengan baik, suatu ketika nanti akan tumbuh berkembang menjadi bunga yang segar dan bermanfaat. Demikian filosofi pendidikan bagi anak menurut Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. H. Mohammad Nuh, DEA.
“Kalau itu kita tarik pada kondisi riil, apa yang kita lakukan sekarang ini adalah sedang menanam benih, dan merawat benih-benih itu, yang insya Allah ke depannya akan menjadi bunga-bunga yang berkembang dan mekar,” jelas Mohammad Nuh, di hadapan sekitar 600 peserta Rembuk Nasional Pendidikan, di Gedung Garuda, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai (Pusdiklat) Kementerian Pendidikan Nasional, Bojongsari, Depok, Rabu kemarin (03/03).
Benih itu, lanjut Mohammad Nuh, bila dilihat secara fisik memang berbeda jauh dengan bunga. Bentuk benih kecil-kecil dan sama sekali tidak menarik, sementara bunga indah dan menawan. Namun dari ketidakmenarikan itu, kalau disemai dan dirawat terus menerus, nanti akan menjadi bunga yang luar biasa ragamnya. Jadi jangan meremehkan benih-benih tersebut. Meski pun secara lahiriyah tidak menampakkan keindahan, tapi di balik benih-benih itu menyimpan potensi yang luar biasa.
“Murid-murid kita, mahasiswa kita, yang sekarang ini bisa jadi tidak menarik, seperti tidak menariknya kita waktu muda dulu. Dan, siapa sih yang mengira panjenengan (anda) sekalian bisa menjadi rektor 40 tahun yang lalu? Siapa yang mengira panjenengan semua bisa jadi kepala dinas? Tidak ada yang bisa mengira kan,” lanjut Mohammad Nuh.
Menyadari ketidaktahuan manusia terhadap masa depan atau nasib tersebut, Mohammad Nuh mengajak segenap pelaku pendidikan untuk mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta sabar, agar suatu ketika nanti bisa tumbuh berkembang menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Simbol benih dan bunga yang diperuntukkan sebagai media penjelasan tentang filosofi pendidikan bagi anak-anak tersebut, diambil Mohammad Nuh dari kalimat bijak yang tertulis dalam sebuah buku karya Lilik, seorang ibu yang rajin mengurusi anak-anak, yaitu; all the flowers of all the tomorrows are in the seeds of the day (seluruh bunga yang ada di hari esok, adalah benih-benih hari ini).
“Beliau menulis satu buku, dan di situ ada kata bijaknya yang saya ambil saat ini. Dan kalau saya tidak menyebutkan itu, maka saya plagiat. Plagiat itu kan definisinya mengambil karya orang lain, tanpa memberikan kredit pada orang yang memilikinya,” kata Muhammad Nuh.
Sebelum mengakhiri pidatonya, Muhammad Nuh mengajak setiap orang agar tidak menjadikan pendidikan sebagai komoditas politik. Menurutnya, hendaknya pendidikan dibiarkan hidup di alamnya sendiri. Karena ketika pendidikan sudah menjadi komoditas politik, yang terjadi adalah transaksi, dan ini merupakan fenomena yang tidak sehat.
“Bukan berarti para calon pemimpin itu tidak boleh mengkampanyekan pendidikan. Itu boleh-boleh saja sebagai bentuk komitmen. Tapi jangan dijadikan sebagai barang dagangan. Karena bila pendidikan tetap berada di alamnya sendiri, insya Allah tidak ada kepala dinas yang merasa takut saat menjalankan misi sesuai dengan jobnya. Mereka tak kan takut diganti dengan seseorang yang tidak memiliki kompetensi di urusan pendidikan,” kata Muhammad Nuh yakin, dan disambut applaus para peserta Rembuk Nasional Pendidikan yang mayoritas merupakan kepala dinas pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten /kota.*
Melayani Jadi Paradigma Kebijakan Kemendiknas
Depok (Mandikdasmen): Paradigma kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional saat ini ditekankan pada tindakan melayani masyarakat. Hal ini—selain tercermin dari visi-misi Kementerian Pendidikan Nasional—juga tergambar jelas dari pidato Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. H. Muhammad Nuh, DEA, saat memberikan arahan kepada peserta Rembuk Nasional Pendidikan, Rabu Kemarin (03/03).
“Ada lima hal yang kini mengalami perubahan dan terjadi di lingkungan pendidikan,” kata Muhammad Nuh.
Perubahan yang dimaksud Muhammad Nuh adalah sebagai berikut; pertama, pergeseran paradigma pendidikan dari wajib belajar sembilan tahun menuju hak belajar sembilan tahun; kedua, kesetaraan dalam pelayanan. Artinya, setiap warga negara, tidak memandang ras, agama, suku, jender, keterbatasan fisik dan mental, berhak memperoleh layanan pendidikan dan perlindungan dari diskriminasi.
Ketiga, pendidikan komprehensif yang meliputi ilmu pengetahuan, budi pekerti (akhlak, karakter), kreativitas, dan inovatif. Poin ketiga ini terinspirasi dari pesan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian ini tidak boleh dipisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak bangsa.
“Komprehensif berarti agar semua potensi yang dimiliki peserta didik itu dieksplor, baik potensi intelektualnya, rasanya dan seterusnya,” jelas Muhammad Nuh.
Ujung dari eksplorasi itu, lanjut Muhammad Nuh, adalah kreatifitas dan inovasi, yang berhimpit dengan entrepreneur/usahawan. Kesadaran para pelaku pendidikan akan kreatifitas dan inovasi ini sangat penting. Tapi hendaknya tidak diartikan sebagai entrepreneurship semata, karena bisa berujung pada kepentingan bisnis. Karena itu harus ada sisi sosialnya, dan menjadi socialentrepreneurship.
“Kalau kita tidak melengkapi dengan sisi sosial, seakan-akan kita hanya mengkredit anak-anak lebih dekat dengan kapitalisme. Jadi semuanya serba uang, uang, dan uang. Padahal kan tidak. Ada juga yang harus dilengkapi dengan sosial, sehngga tanggung jawab sosial melekat di situ. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter,” lanjut Muhammad Nuh.
Keempat, fungsi sekolah negeri menjadi sekolah publik. Artinya, sekolah negeri bisa dipergunakan sebagai sarana-prasarana pendidikan lain, sedikitnya dengan tujuan yang sama, dan bisa melayani kebutuhan publik atas ilmu pengetahuan, dan ketrampilan; dan kelima, perubahan pemikiran dalam mengelola pendidikan, yang semula berangkat dari pasokan (supply oriented), menjadi berdasarkan kebutuhan (demand oriented). Pasokan yang dimaksud Muhammad Nuh adalah pemikiran pengelolaan pendidikan selama ini masih berdasarkan ketersediaan sumberdaya, sehingga kurang peka terhadap variasi kebutuhan. Karenanya perlu dirubah menjadi demand oriented, yang mengakomodir kebutuhan siswa, kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan, kebutuhan orang tua, dan kebutuhan lembaga, dengan memperhatikan segala variasinya.
Selain itu, Muhammad Nuh juga menyarankan agar para peserta Rembuk Nasional Pendidikan memperhatikan dan memikirkan beberapa isu sebagai berikut; 1) penyatuan SD-SMP satu atap untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan Wajar Sembilan Tahun; 2) penggunaan nomor induk siswa nasional mulai SD sampai Perguruan Tinggi, untuk memudahkan sistem administrasi dan pelacakan mutu (sambil menunggu nomor kependudukan tunggal); 3) pewajiban setiap skripsi, tesis, disertasi dan hasil penelitian yang didanai APBN untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah; 4) menggalakkan kegiatan berbagi pengetahuan antara pendidik dan tenaga kependidikan; dan 5) penyelarasan antara dunia pendidikan dengan ketenagakerjaan.
Atas dasar paradigma dan kelima isu itulah, kata Muhammad Nuh, para stake holder pendidikan diharapkan mampu mengembangkan pola pikir melayani yang berorientasi pada kepentingan publik, berdasarkan fungsi, berdasarkan informasi, terbuka, efisien bagi pengguna layanan, tidak dibatasi waktu dan lokasi (anytime, anywhere), dan berkesetaraan (anyone).
Visi dan misi Kementerian Pendidikan Nasional, serta arahan Menteri Pendidikan Nasional dalam Rembuknas ini, makin mempertegas tentang upaya Pemerintah mengimplementasikan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, bahwa; tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan pemerintah harus mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.
Dalam pembukaan Rembuknas ini, selain dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, juga dihadiri Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional, para pejabat eselon I, 2 dan Kepala Bagian Perencanaan Unit Utama di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, para kepala dinas pendidikan tingkat provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia, rektor/direktur politeknik PTN, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Pendidikan, SEAMEO Centers, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di luar negeri, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Dubes/Wakil RI di UNESCO, Ketua Umum dan Sesjen PB PGRI.*
“Ada lima hal yang kini mengalami perubahan dan terjadi di lingkungan pendidikan,” kata Muhammad Nuh.
Perubahan yang dimaksud Muhammad Nuh adalah sebagai berikut; pertama, pergeseran paradigma pendidikan dari wajib belajar sembilan tahun menuju hak belajar sembilan tahun; kedua, kesetaraan dalam pelayanan. Artinya, setiap warga negara, tidak memandang ras, agama, suku, jender, keterbatasan fisik dan mental, berhak memperoleh layanan pendidikan dan perlindungan dari diskriminasi.
Ketiga, pendidikan komprehensif yang meliputi ilmu pengetahuan, budi pekerti (akhlak, karakter), kreativitas, dan inovatif. Poin ketiga ini terinspirasi dari pesan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian ini tidak boleh dipisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak bangsa.
“Komprehensif berarti agar semua potensi yang dimiliki peserta didik itu dieksplor, baik potensi intelektualnya, rasanya dan seterusnya,” jelas Muhammad Nuh.
Ujung dari eksplorasi itu, lanjut Muhammad Nuh, adalah kreatifitas dan inovasi, yang berhimpit dengan entrepreneur/usahawan. Kesadaran para pelaku pendidikan akan kreatifitas dan inovasi ini sangat penting. Tapi hendaknya tidak diartikan sebagai entrepreneurship semata, karena bisa berujung pada kepentingan bisnis. Karena itu harus ada sisi sosialnya, dan menjadi socialentrepreneurship.
“Kalau kita tidak melengkapi dengan sisi sosial, seakan-akan kita hanya mengkredit anak-anak lebih dekat dengan kapitalisme. Jadi semuanya serba uang, uang, dan uang. Padahal kan tidak. Ada juga yang harus dilengkapi dengan sosial, sehngga tanggung jawab sosial melekat di situ. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter,” lanjut Muhammad Nuh.
Keempat, fungsi sekolah negeri menjadi sekolah publik. Artinya, sekolah negeri bisa dipergunakan sebagai sarana-prasarana pendidikan lain, sedikitnya dengan tujuan yang sama, dan bisa melayani kebutuhan publik atas ilmu pengetahuan, dan ketrampilan; dan kelima, perubahan pemikiran dalam mengelola pendidikan, yang semula berangkat dari pasokan (supply oriented), menjadi berdasarkan kebutuhan (demand oriented). Pasokan yang dimaksud Muhammad Nuh adalah pemikiran pengelolaan pendidikan selama ini masih berdasarkan ketersediaan sumberdaya, sehingga kurang peka terhadap variasi kebutuhan. Karenanya perlu dirubah menjadi demand oriented, yang mengakomodir kebutuhan siswa, kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan, kebutuhan orang tua, dan kebutuhan lembaga, dengan memperhatikan segala variasinya.
Selain itu, Muhammad Nuh juga menyarankan agar para peserta Rembuk Nasional Pendidikan memperhatikan dan memikirkan beberapa isu sebagai berikut; 1) penyatuan SD-SMP satu atap untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan Wajar Sembilan Tahun; 2) penggunaan nomor induk siswa nasional mulai SD sampai Perguruan Tinggi, untuk memudahkan sistem administrasi dan pelacakan mutu (sambil menunggu nomor kependudukan tunggal); 3) pewajiban setiap skripsi, tesis, disertasi dan hasil penelitian yang didanai APBN untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah; 4) menggalakkan kegiatan berbagi pengetahuan antara pendidik dan tenaga kependidikan; dan 5) penyelarasan antara dunia pendidikan dengan ketenagakerjaan.
Atas dasar paradigma dan kelima isu itulah, kata Muhammad Nuh, para stake holder pendidikan diharapkan mampu mengembangkan pola pikir melayani yang berorientasi pada kepentingan publik, berdasarkan fungsi, berdasarkan informasi, terbuka, efisien bagi pengguna layanan, tidak dibatasi waktu dan lokasi (anytime, anywhere), dan berkesetaraan (anyone).
Visi dan misi Kementerian Pendidikan Nasional, serta arahan Menteri Pendidikan Nasional dalam Rembuknas ini, makin mempertegas tentang upaya Pemerintah mengimplementasikan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, bahwa; tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan pemerintah harus mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.
Dalam pembukaan Rembuknas ini, selain dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, juga dihadiri Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional, para pejabat eselon I, 2 dan Kepala Bagian Perencanaan Unit Utama di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, para kepala dinas pendidikan tingkat provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia, rektor/direktur politeknik PTN, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Badan Akreditasi Pendidikan, SEAMEO Centers, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di luar negeri, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Dubes/Wakil RI di UNESCO, Ketua Umum dan Sesjen PB PGRI.*
Diklat Kewirausahaan Beri Motivasi dan Pembekalan Hidup
Dalam Diklat, diskusi di kelas berjalan santai. (Foto diambil Rabu [3/3]).
Cianjur (Mandikdasmen): Untuk membangun kesiapan mental menjelang masa purna tugas dan memberikan pengetahuan serta keterampilan untuk aktivitas dan kesejahteraan setelah purna tugas sesuai bidang yang dipilih, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kewirausahaan Pembekalan PNS Pra Purna Tugas. Peserta Diklat berjumlah sekitar 100 orang dari berbagai unsur di lingkungan Ditjen Mandikdasmen yang tersebar di seluruh Indonesia yang akan memasuki masa pensiun.
Acara yang digelar pada 1-6 Maret 2010 ini bertempat di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Cianjur, Jawa Barat. Fasilitator Diklat adalah widyaiswara/instruktur dan teknisi PPPPTK Pertanian Cianjur berpengalaman.
Materi Diklat terdiri dari tiga program; Program Umum, Program Pokok, dan Program Penunjang. Program Umum mencakup kebijakan umum pemberhentian dan pemensiunan dan kewirausahaan. Materi Pokok terdiri dari Materi Pokok Departemen, yaitu materi yang ditawarkan kepada peserta Diklat: (1) budidaya ternak, (2) budidaya tanaman hortikultura, (3) budidaya ikan, dan (4) pengolahan hasil pertanian. Sementara Program Penunjang terdiri dari orientasi program dan evaluasi penyelenggaraan.
Salah satu peserta Diklat yakni Aswan Ritonga, staf Bagian Perencanaan Sekretariat Ditjen Mandikdasmen. Lelaki berusia 55 tahun ini memilih materi pokok budidaya ternak. Ia merasa Diklat sangat penting bagi pembekalan hidupnya menjelang pensiun. “Kita bisa mempersiapkan diri untuk melakukan suatu profesi yang baru,” katanya. Dengan memiliki keterampilan, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk keluarga dan lingkungannya.
Di lapangan, peserta mengikuti pembekalan berupa praktik dan teori. Peserta dikelompokkan sesuai peminatan. Kemudian, di tempat yang telah disediakan, didampingin widyaiswara, mereka mengeksplorasi objek yang diminati.
Seperti Aswan Ritonga dan Suharto, staf Bagian Rumah Tangga Setditjen Mandikdasmen, mereka pada Rabu (3/3) pagi hingga sore menyambangi kandang ayam, domba, dan sapi di pagi hari dan sorenya berdiskusi mengenai cara beternak ayam, baik ayam ras maupun buras, dengan seorang widyaiswara.
Widyaiswara itu perempuan berjilbab oranye bernama Elis Juariah. Ia lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Dengan sabar ia menjelaskan sejarah ayam ras, bagaimana memilih pakan ayam, pencegahan terhadap binatang pengganggu (musang, kucing, tikus), dan strategi pemasaran ayam yang menguntungkan.
“Sekarang pemerintah mengarahkan pemeliharaan ayam dengan dikandangkan,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 17 April 1978, ini. Sebab, katanya, cara ini lebih aman terlebih setelah virus flu burung menyerang. Kemudian ia menjelaskan tiga jenis pemeliharaan ayam, yaitu intensif (dikandangkan), semi intensif (dikandangkan dan diumbar), dan ekstensif (diumbar terus).
Diskusi berjalan hangat ketika Aswan dan Suharto mengaitkan pemeliharaan ayam yang umum terjadi di masyarakat. “Masyarakat kalau pelihara ayam, pagi dilepas sore dikandangi,” ujar Suharto. Dan cara itu, katanya, tidak begitu merepotkan karena ayam bisa mencari makan sendiri tanpa perlu diberi makan oleh pemiliknya.
Aswan menceritakan pengalamannya yang mengerikan soal ayamnya. “Pernah ayam saya hanya bagian dalamnya saja yang hilang,” kenangnya. “Jeroannya,” timpal Suharto. “Itu pasti dimakan binatang, Pak!” tanggap Elis. Lalu diskusi mengarah pada kemungkinan hewan pemangsa ayam seperti musang, kucing, dan tikus, serta cara membuat kandang yang aman.
Dengan mengikuti Diklat, Aswan merasa termotivasi untuk mengembangkan usaha yang hendak dirintisnya saat pensiun tiba. “Dengan kemampuan dan keadaan yang ada, kita optimis dapat melakukan sesuatu sesuai ilmu yang kita dapat dari Diklat ini,” ucapnya.
Cianjur (Mandikdasmen): Untuk membangun kesiapan mental menjelang masa purna tugas dan memberikan pengetahuan serta keterampilan untuk aktivitas dan kesejahteraan setelah purna tugas sesuai bidang yang dipilih, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kewirausahaan Pembekalan PNS Pra Purna Tugas. Peserta Diklat berjumlah sekitar 100 orang dari berbagai unsur di lingkungan Ditjen Mandikdasmen yang tersebar di seluruh Indonesia yang akan memasuki masa pensiun.
Acara yang digelar pada 1-6 Maret 2010 ini bertempat di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Cianjur, Jawa Barat. Fasilitator Diklat adalah widyaiswara/instruktur dan teknisi PPPPTK Pertanian Cianjur berpengalaman.
Materi Diklat terdiri dari tiga program; Program Umum, Program Pokok, dan Program Penunjang. Program Umum mencakup kebijakan umum pemberhentian dan pemensiunan dan kewirausahaan. Materi Pokok terdiri dari Materi Pokok Departemen, yaitu materi yang ditawarkan kepada peserta Diklat: (1) budidaya ternak, (2) budidaya tanaman hortikultura, (3) budidaya ikan, dan (4) pengolahan hasil pertanian. Sementara Program Penunjang terdiri dari orientasi program dan evaluasi penyelenggaraan.
Salah satu peserta Diklat yakni Aswan Ritonga, staf Bagian Perencanaan Sekretariat Ditjen Mandikdasmen. Lelaki berusia 55 tahun ini memilih materi pokok budidaya ternak. Ia merasa Diklat sangat penting bagi pembekalan hidupnya menjelang pensiun. “Kita bisa mempersiapkan diri untuk melakukan suatu profesi yang baru,” katanya. Dengan memiliki keterampilan, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk keluarga dan lingkungannya.
Di lapangan, peserta mengikuti pembekalan berupa praktik dan teori. Peserta dikelompokkan sesuai peminatan. Kemudian, di tempat yang telah disediakan, didampingin widyaiswara, mereka mengeksplorasi objek yang diminati.
Seperti Aswan Ritonga dan Suharto, staf Bagian Rumah Tangga Setditjen Mandikdasmen, mereka pada Rabu (3/3) pagi hingga sore menyambangi kandang ayam, domba, dan sapi di pagi hari dan sorenya berdiskusi mengenai cara beternak ayam, baik ayam ras maupun buras, dengan seorang widyaiswara.
Widyaiswara itu perempuan berjilbab oranye bernama Elis Juariah. Ia lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Dengan sabar ia menjelaskan sejarah ayam ras, bagaimana memilih pakan ayam, pencegahan terhadap binatang pengganggu (musang, kucing, tikus), dan strategi pemasaran ayam yang menguntungkan.
“Sekarang pemerintah mengarahkan pemeliharaan ayam dengan dikandangkan,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 17 April 1978, ini. Sebab, katanya, cara ini lebih aman terlebih setelah virus flu burung menyerang. Kemudian ia menjelaskan tiga jenis pemeliharaan ayam, yaitu intensif (dikandangkan), semi intensif (dikandangkan dan diumbar), dan ekstensif (diumbar terus).
Diskusi berjalan hangat ketika Aswan dan Suharto mengaitkan pemeliharaan ayam yang umum terjadi di masyarakat. “Masyarakat kalau pelihara ayam, pagi dilepas sore dikandangi,” ujar Suharto. Dan cara itu, katanya, tidak begitu merepotkan karena ayam bisa mencari makan sendiri tanpa perlu diberi makan oleh pemiliknya.
Aswan menceritakan pengalamannya yang mengerikan soal ayamnya. “Pernah ayam saya hanya bagian dalamnya saja yang hilang,” kenangnya. “Jeroannya,” timpal Suharto. “Itu pasti dimakan binatang, Pak!” tanggap Elis. Lalu diskusi mengarah pada kemungkinan hewan pemangsa ayam seperti musang, kucing, dan tikus, serta cara membuat kandang yang aman.
Dengan mengikuti Diklat, Aswan merasa termotivasi untuk mengembangkan usaha yang hendak dirintisnya saat pensiun tiba. “Dengan kemampuan dan keadaan yang ada, kita optimis dapat melakukan sesuatu sesuai ilmu yang kita dapat dari Diklat ini,” ucapnya.
Tri Joko dan Komitmen Dewan Pendidikan
Bogor (Mandikdasmen): Satu di antara Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota yang tidak menerima subsidi baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Menurut Tri Joko Hiranto, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas, sejak 2008 Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas tidak menerima subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banyumas.
Ketika Pemerintah Pusat memutuskan mulai 2010 tak memberikan subsidi, Tri Joko menyadari tak sepeser pun rupiah mendanai kegiatan operasional lembaga yang menaunginya. Namun kondisi demikian tak menyurutkan tekadnya bersama anggota lain untuk terus berjuang memajukan pendidikan. Kegiatan tetap jalan, dipilih dan dipilah mana yang tidak membutuhkan anggaran besar. “Misalnya sosialisasi Komite Sekolah dan pelatihan Komite Sekolah,” katanya, Selasa (2/3). Selain sosialisasi juga monitoring Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) serta menjaring informasi dari masyarakat.
Lalu apa yang membuat mereka tetap bertahan? Komitmen, aku Tri Joko. Mereka tetap bergelut dengan pekerjaan masing-masing dan kegiatan Dewan Pendidikan dilakukan dengan koordinasi yang cair. Memang ada sedikit masalah, tambah Tri Joko, seperti Ketua Dewan Pendidikan yang sibuk dengan keanggotannya di DPRD dan sejumlah anggota yang pindah rumah lantaran pindah tugas.
Tri Joko dan rekan-rekannya bukannya tidak melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Bupati Banyumas. “Sebenarnya kita sering mengadakan komunikasi tapi sampai hari ini kita belum mendapat informasi yang jelas kenapa itu tidak dimasukkan, entah karena lupa atau apa,” ucapnya. Bahkan ia menilai sejumlah agenda pembangunan yang dilakukan Pemkab Banyumas kurang urgen. “Yang urgen bagi saya pendidikan dan kesehatan karena itu public service langsung dan itu membutuhkan dana yang besar,” ujarnya.
Yang membuat upaya komunikasi tak kunjung menuai hasil, Tri Joko menilai, lantaran terdapat perbedaan sudut pandang dalam melihat masalah. “Kita mempunyai kesulitan untuk memberi masukan kepada Pemerintah Daerah karena beliau punya keyakinan yang tidak bisa kita tawar,” keluhnya. “Selain itu, teman-teman di Dewan Pendidikan agak cerewet.”
Ketiadaan pemberian subsidi, kata Tri Joko, bukan indikasi Pemda tidak mengerti persoalan pendidikan. “Mereka tahu. Saya yakin mereka bukan orang bodoh. Semuanya orang pintar dan pernah mengenyam pendidikan,” ujarnya. “Saya tidak tahu pemikiran mereka. Ada pemikiran secara sistemik yang kita rasakan.”
Bagaimana dengan komunikasi dengan pelaku dunia usaha dan dunia industri (DUDI)? Dulu, pada 2008, setelah APBD tak lagi mendanai operasional Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas, anggota lembaga ini menjalin komunikasi dengan mereka. “Ada seorang teman. Kita mengadakan kegiatan pada 2008 itu karena sudah berlangsung dan banyak, teman kita yang nomboki,” kisah Tri Joko. “Dari situ muncul ketidakpenakan kita. Dewan Pendidikan kok seolah-olah tergantung pada satu orang. Mengemis.” Maka sejak itu komunikasi dengan DUDI ‘dibekukan’. “Kalau kita mengundang mereka kita membutuhkan dana.”
Waktu terus bergulir dan Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas terus ‘bernapas’. Tak satupun anggota yang masih bertahan berpikir untuk mundur perlahan. “Siapapun bupatinya kita tetap komitmen pada dunia pendidikan,” kata Tri Joko. “Tanpa Dewan Pendidikan pun kita berkomitmen pada dunia pendidikan.”
Orientasi ‘perjuangan’ Tri Joko dan rekan-rekannya kini pada advokasi kepentingan masyarakat. Dan ia berharap komitmen itu tetap dipegang teguh teman-temannya.
Ketika Pemerintah Pusat memutuskan mulai 2010 tak memberikan subsidi, Tri Joko menyadari tak sepeser pun rupiah mendanai kegiatan operasional lembaga yang menaunginya. Namun kondisi demikian tak menyurutkan tekadnya bersama anggota lain untuk terus berjuang memajukan pendidikan. Kegiatan tetap jalan, dipilih dan dipilah mana yang tidak membutuhkan anggaran besar. “Misalnya sosialisasi Komite Sekolah dan pelatihan Komite Sekolah,” katanya, Selasa (2/3). Selain sosialisasi juga monitoring Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) serta menjaring informasi dari masyarakat.
Lalu apa yang membuat mereka tetap bertahan? Komitmen, aku Tri Joko. Mereka tetap bergelut dengan pekerjaan masing-masing dan kegiatan Dewan Pendidikan dilakukan dengan koordinasi yang cair. Memang ada sedikit masalah, tambah Tri Joko, seperti Ketua Dewan Pendidikan yang sibuk dengan keanggotannya di DPRD dan sejumlah anggota yang pindah rumah lantaran pindah tugas.
Tri Joko dan rekan-rekannya bukannya tidak melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Bupati Banyumas. “Sebenarnya kita sering mengadakan komunikasi tapi sampai hari ini kita belum mendapat informasi yang jelas kenapa itu tidak dimasukkan, entah karena lupa atau apa,” ucapnya. Bahkan ia menilai sejumlah agenda pembangunan yang dilakukan Pemkab Banyumas kurang urgen. “Yang urgen bagi saya pendidikan dan kesehatan karena itu public service langsung dan itu membutuhkan dana yang besar,” ujarnya.
Yang membuat upaya komunikasi tak kunjung menuai hasil, Tri Joko menilai, lantaran terdapat perbedaan sudut pandang dalam melihat masalah. “Kita mempunyai kesulitan untuk memberi masukan kepada Pemerintah Daerah karena beliau punya keyakinan yang tidak bisa kita tawar,” keluhnya. “Selain itu, teman-teman di Dewan Pendidikan agak cerewet.”
Ketiadaan pemberian subsidi, kata Tri Joko, bukan indikasi Pemda tidak mengerti persoalan pendidikan. “Mereka tahu. Saya yakin mereka bukan orang bodoh. Semuanya orang pintar dan pernah mengenyam pendidikan,” ujarnya. “Saya tidak tahu pemikiran mereka. Ada pemikiran secara sistemik yang kita rasakan.”
Bagaimana dengan komunikasi dengan pelaku dunia usaha dan dunia industri (DUDI)? Dulu, pada 2008, setelah APBD tak lagi mendanai operasional Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas, anggota lembaga ini menjalin komunikasi dengan mereka. “Ada seorang teman. Kita mengadakan kegiatan pada 2008 itu karena sudah berlangsung dan banyak, teman kita yang nomboki,” kisah Tri Joko. “Dari situ muncul ketidakpenakan kita. Dewan Pendidikan kok seolah-olah tergantung pada satu orang. Mengemis.” Maka sejak itu komunikasi dengan DUDI ‘dibekukan’. “Kalau kita mengundang mereka kita membutuhkan dana.”
Waktu terus bergulir dan Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas terus ‘bernapas’. Tak satupun anggota yang masih bertahan berpikir untuk mundur perlahan. “Siapapun bupatinya kita tetap komitmen pada dunia pendidikan,” kata Tri Joko. “Tanpa Dewan Pendidikan pun kita berkomitmen pada dunia pendidikan.”
Orientasi ‘perjuangan’ Tri Joko dan rekan-rekannya kini pada advokasi kepentingan masyarakat. Dan ia berharap komitmen itu tetap dipegang teguh teman-temannya.
PENJELASAN TENTANG ADANYA PENIPUAN PROGRAM BIMBINGAN UJIAN SERTIFIKASI GURU
Berdasarkan beberapa pengaduan dari guru yang disampaikan kepada kami tentang adanya penipuan yang mengatasnamakan tim setifikasi guru di Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), dengan ini kami informasikan bahwa Ditjen PMPTK tidak mempunyai kegiatan Bimbingan Ujian Sertifikasi Guru 2010. Atas penipuan ini guru yang namanya tertera dalam undangan diminta untuk menghubungi seseorang dan dipaksa untuk menyetorkan sejumlah dana pendaftaran kegiatan yang dilaksanakan di salah satu Hotel di Jakarta.
kegitan sertifikasi guru yang menjadi tanggung jawab Ditjen PMPTK adalah menyusun regulasi, pedoman teknis pelaksanaan, sosialisasi kepada dinas pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota, dan pemantauan pelaksanaan sertifikasi guru. Sedangkan kegiatan pemberian informasi atau sosialisasi setifikasi guru kepada guru sebagai peserta sertifikasi menjadi tanggung jawab dinas pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota.
Kami menghimbau kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas agar langsung berkoordinasi dengan dinas pendidikan di wilayah masing-masing jika menerima undangan tentang bimbingan sertifikasi guru.
Informasi lebih lengkap tentang pelaksanaan sertifikasi guru dapat diunduh di website http://sertifikasiguru.org/
kegitan sertifikasi guru yang menjadi tanggung jawab Ditjen PMPTK adalah menyusun regulasi, pedoman teknis pelaksanaan, sosialisasi kepada dinas pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota, dan pemantauan pelaksanaan sertifikasi guru. Sedangkan kegiatan pemberian informasi atau sosialisasi setifikasi guru kepada guru sebagai peserta sertifikasi menjadi tanggung jawab dinas pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota.
Kami menghimbau kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas agar langsung berkoordinasi dengan dinas pendidikan di wilayah masing-masing jika menerima undangan tentang bimbingan sertifikasi guru.
Informasi lebih lengkap tentang pelaksanaan sertifikasi guru dapat diunduh di website http://sertifikasiguru.org/
Langganan:
Postingan (Atom)